Mengingat Tuhan untuk Meraih Makna

oleh -1,093 views
Corona, Literasi, Prestasi, Rida Nurdiani
Rida Nurdiani

Dicarilah kantong plastik untuk memasukkan nasi tadi untuk ayam peliharaannya di rumah. Tidak ada yang mubazir. 

Pesan orang tua dulu ketika iya masih kecil. Makan pun harus bersih, tidak boleh ada nasi satu butir pun tersisa di piring. Ucapan itu, selalu terekam dalam memori otaknya. Hal itu menjadi faktor kebiasaan disiplin dan berbuat lebih baik.

“Sama saja memberikan makan binatang juga adalah ibadah. Tidak ada yang mubazir jika kita renungkan”, ungkapnya sembari membereskan seluruh peralatan kerja dan buku serta lainnya yang menjadi miliknya masuk tas gemblok. Praktis tinggal naik motor. 

Baca :  Forum Sastra Bogor Adakan Kegiatan di Hari Puisi Indonesia 2022

“Alhamdulillah sudah sholat Ashar juga tinggal sholat Magrib di rumah”, ujarnya sembari mengunci pintu perpustakaan.

Saat jelang magrib sudah tiba di rumah. Begitu motor masuk garasi terdengar Adzan Maghrib   dari mesjid terdekat. Sebagai nenek sekaligus ibu bagi anak-anak di rumah, memegang cucu. Tentu setelah mencuci tangan dengan sabun di air mengalir. Sudah biasa seperti cucu sudah tahu neneknya pulang. Padahal baru empat bulan kurang. 

“Iya cu..sini nenek pegang dulu…”, ungkapnya dengan penuh kasih sayang. Cucunya terasa nyaman di pelukan sang nenek. Tentunya tidak lama karena belum sholat Magrib. Semuanya sudah sholat Magrib tinggal iya yang belum. Segera menuju kamar mandi untuk ambil air wudhu. Terasa nikmat hidup jika ada keseimbangan. Melakukan ikhtiar sebagai makhluk hidup mencari nafkah dan bersyukur dengan melakukan ibadah dan berdoa. Tidak perlu ada yang ditunda apalagi ditinggalkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *