Nostalgia Naik Oto-Bis Jaman Doeloe

0
Apendi Arsyad, Nostalgia, Oto-Bis, Jadul
Pameran Indonesia Classic and Unique Bus (INCUBUS), di Hall B JI Expo, Kemayoran, Jakarta, pada Tahun 2017.

Oleh: Dr. Apendi Arsyad

Adinda Erie dari Pekanbaru, tarima kasih atas kiriman “postingan gambar2 “Oto-bis” dari masa ke masanya yang menampilkan jenis mobil angkutan orang dan barang tempo doeloe di Rantau Kuantan tahun 1950an, sd 1970an, yang menggambarkan sekilas evolusi automotik di jaman doeloe (jadoel) sampai dengan zaman Now, era millenial di daerah Sumatera (Sumbar dan Riau) waktu itu, sangat jauh berubah.

Sungguh menarik memang kita lihat videonya, menghibur, “lucu-lucu”, dan membuat kita terbayang-bayang kehidupan zaman doeloe (semasa usis remaja), bernostalgia sejenak, yang barangtentu penuh tantangan dan perjuangan menghadapi liku-liku hidup yang agak keras.

Mencermati tayangan postingan mobil-2 tua yg mengangkut barang dan orang tersebut, telah membangkitkan alam bawah sadar (ingatan, kenangan) manis kita peristiwa peristiwa tentang masa lampau yang “indah” dan penuh
dengan romantikanya. Izinkan saya akan menarasikan sebagaimana ceritakan selanjutnya ini.

Dalam postingan tampak gambar-gambar seperti: bus ANS, ALS, Merah Sungai, Tunas Muda, Merah Sari, dll, yang sedang parkir di terminal2 di kampuang awak doeloe, dan ada juga menampilkan oto-bus yang sedang dalam perjalanan dgn muatan barang yg penuh (manjunjung ke ateh). Lucunya oto-bis yg penuh barang, akhirnya tersangkut dibawa besi jembatan knek (stokar) terpaksa bekerja keras melepaskan barang-2 muatan yg tersangkut tersebut..Dari gambar ini kelihatan tampak lucunya.

Memang, konstruksi oto-bus jadoel, baik.berukuran kecil apalagi yg besar tampak “kekar dan kaku”, sangat beda dgn mobil-2 bus (oto-bis) produk zaman sekarang, agak “lansing” ya pokoknya “kreen”, “mantul”.ada berbagai mode, tipe dan assessories, apalagi oto-bis mini made in Jepang seperti merk Toyota, Honda, Mitsubisi, dsb.

Dari deretan penampilan gambar oto-bis tua tersebut, kita teringat (taingek) kehidupan saya tempo doeloe sekitar tahun 1976, sewaktu berangkat (barangkek) menempuh perjalanan dari kampuang Cerenti menuju kota Pekanbaru pertama kali, untuk memulai episode, merantau ke negeri orang untuk melanjutkan pendidikan SMA, tepatnya di kota Pekanbaru (Pku) yg berjarak lk 200 km dari tempat kelahiranku, Desa Kampungbaru Kecamatan Cerenti Kabupaten Inderagiri Hulu (sebelum pemekaran Kab.Kuansing, 1999). Waktu itu saya berangkat ke kota Pku naik oto-bis oplet berukuran sedang berpenumpang 10-15 orang (saya sudah lupa nama oto-bisnya) yang memakan waktu sekitar 4 hari 4 malam baru.

Baca :  Janganlah Kultuskan Bung Karno

Perjalanan saya yang sangat melelahkan bersama ibundaku, alhamdulillah bisa sampai di kota Pku, datang dari kampuang. Hal ini terjadi disebabkan kondisi badan jalan raya Rengat-Pku bukan main buruknya, badan jalan belum di aspal masih tanah berbatu kerikil, pinggir badan jalan tanpa ada saluran air (drainase) lagi. Jika musim hujan, dimana curah hujan tinggi, maka kondisi badan jalan yang dilalui oto-bis pun sangat licin dan jalan juga berlubang-lubang, sehingga ban oto-bis yang kami tumpangi sering terpeleset, terpuruk ke pinggir badan jalan, bahkan terkadang ban oto-bis terbenam (tapuruak bahasa Caghonti) cukup dalam di tanah lempung bertekstur liat, oto-bis pun berhenti, terkadang cukup lama. Para penumpang lelaki pun terpaksa turun utk mendorong oto-bis yang kena musibah “tapuruak” tersebut, agar bisa lepas, yg kemudian bisa melanjutkan perjalanan menuju kota Pku. Jika masih gagal, terpaksa berlama-lama menunggu mobil lain atau truk yg lewat untuk diminta, membantu menarik oto-bis yg mogok dengan menggunakan rantai besi.

Kondisi jalan begitu parahnya, saya masih ingat jalan yang paling rusak parah ada di daerah Sentajo mau.memasuki Taluk Kuantan, daerah Petai, Lipat Kain, Teratak Buluah, etc. Untuk mengantisipasi menempuh jalan buruk, pihak pemilik oto-bis telah memasang ban/roda oto-bis pada bagian belakang dengan melilitkan rantai besi pada bagian roda kiri dan-kanan oto-bis, guna memperkuat cengkraman ke badan jalan, sehingga ban mobil tidak mudah terpuruk.

Cerita nostalgia tsb diatas pernah saya sampaikan dalam materi ceramah kepada para murid, pelajar dan siswa-2: SD, SMPN dan siswa SMAN, serta SMK Cerenti sewaktu pulang ke kampuang, anak2 sekolah yg dikunjungi ke sekolah untuk suatu acara studium general, mereka mendengarkan ceramah saya pun agak ter “bengong-2″, sambil.bertanya-tanya kok bisa, mereka setengah kurang percaya, terutama cerita tentang roda/ban oto-bis diberi lilitan rantai besi”.

Postingan sejumlah oto-bis jadoel ini di WAG, juga membuat saya terkenang dengan kehidupan masa lalu (bernostalgia), khususnya ada tampilan gambar2 oto-oto bis jadul, ketika menyeberang sungai (Kampar Kiri, darah Lipat Kain dan Teratak Buluah dll) terpaksa menggunakan perahu kompang dengan tenaga manusia, yang menggunakan peralatan yang sangat sederhana.

Baca :  Aku Bangga Sebagai Alumni SMPPN No.49 Kota Pekanbaru

Saya masih ingat, ketika melewati badan sungai Lipat Kain, dan DAS Taratak Buluah etc oto-oto bus baik yg datang dari Rengat maupun dari kota Pku mengantri panjang, dan para penumpang menunggu cukup.lama bisa2 setengah hari baru bisa melanjutkan perjalanan. Tidak heran banyak muncul berbagai warung makan-nasi (resto sederhana) di sepanjang DAS Kampar Kiri: daerah Lipat Kain dan Teratak Buluah. Warung2 nasi yang banyak bermunculan tersebut menawarkan aneka lawuk-pauk (ikan2) sungai yg lezat2, gurih dan nasi putih (terkenal wakty lawuk bayar sedangkan nasi gratis). Harganya makan di warung pada saat itu cukup terjangkau sesuai dengan kemampuan kantong para musafir.

Jadi, di era 1970an perjalanan untuk berangkat merantau sangatlah melelahkan, tetapi tentunya juga mengesankan bagi mereka yg mengalaminya spt saya sendiri. Begitulah keadaannya transportasi jalan darat di bumi Pacu Jalur Kuansing Ruau waktu itu tepatnya tahun1976, serba sulit yang membuat anak anak desa/kampuang kurang tertarik bahkan takut pergi keluar daerahnya dan sangat menghambat untuk melanjutkan sekolah ke daerah perkotaan, kecuali mereka yg bermotivasi tinggi ingin merubah nasib dan punya nyali, pemberani.

Kini semuanya itu, di zaman Now berubah drastis dan semakin maju hingga kini, dengan fasilitas insprastruktur jalan raya yg sangat bagus, dengan beraneka ragam kenderaan yang berlalu lalang spt bus besar, sdg dan minibus (“oto travel” bhs Continya) juga banyak pilihannya, termasuk sepeda motor (“honda”) yg digemari anak2 muda (generasi milineal) yg punya nyali (pemberani) dari kampuang ke kota Pku sudah cukup banyak menggunakan sepeda motor “honda” secara berkelompok (rombongan).

Tempo doeloe jarak tempuh antara Cerenti ke Pku memakan waktu lk 4 hari 4 malam baru tiba di kota Pku, kini cukup lk 4 jam saja sdh sampai. Doeloe oto-bis jadoel menyemberang sungai/DAS pakai perahu kompang, kini lewat jembatan besi yang kokoh; doeloe oto-bis menghidupkan mesinnya pakai “engkol”, yang diputar-putar knek sampai bercucuran kerungat, kini cukup memencet stater, mesin mobil pun hidup; doeloe penumpangnya terantuk-antuk .(bahasa Caghonti “Tatagual”) kepalanya antar penumpang oto-bis (mobilnya sempit) akibatnya kepala menjadi terasa sakit ada yang sampai benjol2 di kepala, jika sedang tidur krn jalan sangat jelek berlubang-lubang, mobil bergoyang ke kiri dan kekanan (“taonjal-onjal” bahasa Cerentinya) bahkan terkadang para penumpang terpaksa turun dari mobil oto-bis jadoel; Sekarang.zaman Now para penumpang tidur nyenyak dalam perjalanan dan demikian nyamannya krn jalan raya sudah mulus dengan beraspal-hotmik-beton.. dan rambu-2 jalan pun cukup banyak. Saat ini turun penumpangnya hanya rata2 sekali saja pada saat makan siang di rumah makan (restoran) utk makan berat dan menunaikan ibadah sholat bagi yang menjalankannya, begitu nikmat perjalanan sekarang ini.

Baca :  Dibalik Kesulitan Ada Kemudahan

Begitulah kemajuan zaman, generasi milenial sekarang menikmati berbagai kemudahan2 (fasilitas) dan dimanja teknologi transportasi dan telekomunikasi (era digital). Dan begitu juga penggunaan sarana information technology and communication (ITC) dgn berbagai aplikasinya yg sangat pesat. ITC membuat anak2 muda yg bersekolah (pelajar/siswa-i/mahasiswa-i) di daerah rantau jika ingin berkomunikasi dgn ortu di kampung, misalnya saya dari Bogor Jawa Barat ke Cerenti Kuansing Riau baru bisa menerima informasi lk 2 minggu melalui surat menyurat (via Jawatan Pos) waktu itu; sedangkan generasi sekarang sangat cepat dgn memainkan jejari tangannya di gedgetnya cukup 2-3 detik sdh bisa berbicara langsung dgn ortunya lewat aplikasi tri-G/skypy etc (bisa dengar suara dan lihat wajah dgn jelas). Akibatnya rasa rindu anak2 milenial kepada ortu zaman now menipis, dan sangat jauh berbeda dgn generasi jadul, yg sangat merindukan ortunya beserta para dunsanak dan ingin segera balik ke kampung melepas rindu.

Dengan kemajuan peradaban ini, diharapkan perkembangan pendidikan anak2muda sekarang (era milenial) diharapkan akan lebih hebat dibandingkan kita2 yg hidup di jaman doeloe (jadul), dan kehidupan berkeluarga pun semakin berbahagia. Oleh sebab itu, hal ini patutlah disyukuri atas nikmat yg begitu banyak yg telah diberikan Allah SWT kpd kita sekalian.
Sekian berbagi pengalamannya, hatur nuhun.

Penulis adalah Dosen dan Pendiri UNIDA, Bogor 1986, & aktivis sosial di Bogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here