Ponpes Ulil Albab dan Adian Husaeni

0
Pesantren, Ulil Albab, UIKA Bogor
Pondok Pesantren Ulil Albab UIKA Bogor

Oleh: Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, MSi

Saya alhamdulillah sudah cukup banyak mendapatkan artikel2 yang ditulis adindaku Dr. Drh. H. Adian Husaeni/Aktivis Dewan Dakwah Islamiyah Jakarta dan Dosen Program Pascasarjana UIKA Bogor. Pagi ini juga lewat WAG ICMI Orwilsus Bogor, bpk Dr. M Rais Ahmad/mantan Rektor UIKA Bogor dan sekarang Ketua Dewan Pakar ICMI Bogor memposting lagi artikel Dr. Adian Husaeni, berjudul “Kesaktian Piagam Jakarta”. Menarik sekali isi dan masages yg ada dalam tulisan adinda Adrian ini. Saya sepikiran dan sehati dengan kolumnis Adrian. Jika dirunut ke belakang, saya menulis di medsos berjudul “Janganlah Kultuskan Bung Karno”. Juga kalau tidak salah di bulan April 2020 menulis tentang “Mitos RA Kartini” tulisan tsb sungguh menyentak publik karena berisikan gugatan2 sejarah peranan kaum perempuan Indonesia yg ditampil regim tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Adinda Adrian begitu jeli dan cerdas mengemukakan pikiran2nya berbasis kajian akademik yg ilmiah dan rasional dengan sata dan fakta sederejet nama2 perempuan perkasa yg berjuang melawan penjajahan Belanda utk merebut kemerdekaan bangsa. Beliau.menyebut nama2 pahlawan perempuan Cut Nyadin, Rasuna Said, Dewi Sartika etc. Maksudnya Adrian menggugat dengan bahasa Mitos Kartini. Lebih kurang seminggu saya menulis untuk merespon dan mendalami mitos Kartini tsb, dengan tulisan saya beberapa WAG berjudul “Mengapa Mitos RA Kartini?” Saya berupaya menjawab beberapa hipotesis dan kegelisahan intelektual adinda Dr.Adian Husani dalam perspektif dinamika sejarah politik ummat Islam Indonesia, yang memang selalu berada pada posisi dimarjinalkan oleh kaum yg bermusuhan dengan Islam (kapirun, fasikun, musrikun dan munafikun), terutama di masa penjajahan Hindia Belanda. RA Kartini salah satu produk dipengaruhi kaum Kolonial. Ternyata respon publik terhadap artikel adinda Dr. Adrian dan saya ada juga yg kontra, tidak sependapat dengan RA Kartini sebagai mitos dengan alasan menjaga persatuan bangsa. Kata mereka yg kontra, sudah cukup kita menampil wajah RA Kartini yg muslimah yg pernah belajar di ulama Kiyai dan ulama NU di Jawa, apa iya ?Begitulah pandangan dan pikiran saya dan adinda Dr. Adrian Husaini agak “senapas” rupanya.

Kemudian hari ini saya membaca tulisan Adinda Dr.Adrian Husaeni tentang “Kesaktian Piagam Jakarta”, dan kemaren saya menulis “Jangan Mengkultuskan Bung Karno”. Dan saya simak tulisannya, dan saya bandingkan substansinya juga mirip2 “one mission”, kami sedang berusaha menjelaskan ke publik untuk mengkounter berbagai regulasi2 /kebijakan publik, yg dimuncupkan oleh regim Jokowi sekarang ini yg boleh dikatakan sangat menyimpang dari fakta sejarah yg sah dan benar. Salah satu diantara soal falsafah bangsa dan dasar negara Pancasila.

Artikel-artikel yang ditulis oleh cendekiawan muslim Dr. Adrian Husaini sungguh sangat mencerahkan ummat dan bangsa. Kehadiran artikel tsb pada waktu sekarang ini adalah momentum yg sangat tepat, karena muncul RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) yang diprakarsai fraksi PDIP di DPR RI, begitu sangat sesat dan menyesatkan tsb tentang makna Pancasila, yang dengan kasat mata tampak adanya upaya ideologi komunisme/PKI ingin dibangkitkan kembali. Munculnya RUU HIP cukup meresahkan ummat dan bangsa, kini tokoh ummat dan Ormas Islam yg besar seperti MUI, NU dan Muhammadyah dll “meradang” dan menolak adanya RUU HIP dan meminta DPR RI tidak meneruskan pembahasannya alias membatalkan dari prolegnas, karena jika disyahkan menjadi UU HIP dengan isinya seperti RUU HIP sekarang ini, berpotensi besar dan dapat dipastikan bisa mengancam eksistensi NKRI, konflik sosial terjadi kekuatan socio-religious yg nasionalis (golongan yg berketuhanan YME) berlawanan (vs) dengan socio-communist yg anasionalis/amoral (golongan ateisme). Dalam rangka menguatkan hati dan memantapkan sikap ummat dan bangsa tulisan adinda Adian Husaini, Ph.D sangat ditunggu-tunggu dan dibutuhkan ummat dan bangsa agar NKRI tetap utuh dan lestari.

Saya mengucapkan terima kasih kepada adinda Dr.Adrian Husaini beberapa tulisannya sangat mencerahkan dan menginspirasi perjuangan kita.

Saya disini dalam tulisan ini tidak terlalu dalam menanggapi isi artikel Dr.Adian Husaini. Dan saya menarasikan sekilas apa dan bagaimana Ponpes Ulil Albab tempat Adrian belajar ilmu, saya singgung latar belakang historisnya. Kemudian saya mengajak parabpembaca mengenal siapa Dr. Adrian Husaini ini sebenarnya ?. Maaf saya memang memanggilnya dengan sebutan atau pangilan Adik, bukan Saudara apalagi Bapak. Dr.Adrian Husaini saya panggil adik, selain usianya lebih muda beberapa tahun dari saya. Saya angkatan 17, sedangkan Adrian 18 atau 19 ?. Kami pernah sama2 menjadi aktivis Islam kampus IPB di UKM Badan Kerohanian Islam (BKI) IPB yang bermarkas di Masjid Al Ghifari Bagunde Kota Bogor.

Baca :  Peringati HPSN, Pemkab Pamekasan Berikan CSR ke Beberapa Pesantren

Aktivitas dakwah Islamiyah kami berlangsung selama kira2 3-4 pada thn 1981-1985. Saya pernah mendapat amanah sbg Sekum BKI IPB thn 1981-1982, dan salah satu pengurusnya BKI IPB yang aktif adalah adinda Dr.Drh Adian Husaini ini. Selama kami menjadi aktivis UKM Rohis inilah saya agak intensif mengenal adinda Adrian, yang kini alhamdulillah sudah menjadi tokoh cendekiawan muslim yg terkemuka dengan sejumlah karya2 pemikiran dengan buku2nya yg begitu banyak dan pikiran2nya yg cukup briliyan yg menghiasi forum2 seminar dan artikelnya di koran Republika etc, dan medsos hingga saat ini cukup mewarnai. Apalagi peran dalam berdakwah, beliau semakin signifikan, karena sudah menjadi Ketua Dewan Dakwah Islamiyah (DDI) warisan ulama cendekia/ pahlawan nasional, Almukkarrom alm.Dr.Muh. Natsir/Mantan Ketum Masyumi dan Perdana Menteri RI dgn karyanya “mosi integral Natsir”/NKRI, yaitu di DDI Jakarta bersama dengan Bpk Prof.Dr.H.Ahmad Muhlis (AM) Saefuddin (mantan Menteri Pangan dan Hortikultura di era Presiden RI ke3 alm.BJ Habibie) sebagai Ketua Badan Pembinanya DDI.

Adinda Adrian Husaini.Ph.D, orangnya hidupnya sangat sederhana dan bersahaja. Jika saya tidak salah Adrian pernah menjadi salah seorang “marbot” masjid Al Ghifari IPB (maaf jika saya keliru). Adinda Dr. Adrian Husaini sepengetahuan yg saya amati, sejak mahasiswa perilaku kesholehannya sangat tampak orgnya taat beribadah. Fostur tubuhnya agak gemuk-pendek, pembawaan tenang, tidak begitu banyak bicara, dia banyak mendengar. Walaupun orangnya agak gemuk, suka pakai jaket mencegah dinginnya hawa Bogor, tapi orangnya cukup gesit dan bersemangat dalam menunaikan tugas2 organisasi BKI IPB, dan juga motivasi belajar ilmu agama Islamnya cukup tinggi. Adinda Adrian salah satu hobbynya membaca kitab2 kuning, penguasaan bahasa Arab cukup memadai. Nampaknya beliau pernah ikut belajar dan berlatar belajang santri dari Pondok Pasantren, sangat jauh berbeda dengan nasib saya. Saya hanya sempat lk 2 tahun belajar ilmu agama Islam di sekolah agama, Madrasyah Ibtidaiyah Muallimin Muhammadyah Cerenti di Riau,(1966-1968) di daerah kelahiranku, karena waktu itu bentrok jam belajar dengan di sekolah umum, SDN Cerenti. Saya terpaksa berhenti belajar ilmu agama secara formal akibatnya penguasaan ilmu bahasa Arab sangat terbatas bahkan nihil.

Beliau Dr.Adrian selama kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB kurang merasakan tercukupi belajar dan menimba ilmu agama Islam di TPAI IPB dan UKM BKI IPB. Solusinya adinda Adrian mencari tempat belajar di luar IPB, salah satu diantara yg saya tahu, menjadi santri di program pendidikan agama di Ponpes Ulil Albab di kampus UIKA Bogor, sdgkan kuliah program Sarjana tetap berjalan di FKH IPB.

Ponpes Ulil Albab UIKA Bogor, didirikan Yayasan Pendidikan Islam yg dibina oleh tokoh2 Islam antara lain Almukarrom alm Ajengan KH.Soleh Iskandar, alm.KH Tb Hasan Basri, Prof AM Saefudin sebagai Rektor UIKA Bogor waktu itu, dan guru kita Ustadz Prof.KH.Didin Hafidhuddin/Dosen TPAI IPB, yang juga berkiprah di luar IPB mendampingi ajengan alm.KH Soleh Iskandar, dan ikut mengembangkan kampus UIKA Bogor dan BKSPP waktu itu sampai sekarang. Ustadz Prof. Dr.KH Didin Hafiduddin,MSc lah yang langsung mendidik dan mengayomi santri2 Ponpes Ulil Albab, antara lain muridnya adalah Adrian Husaini.Ph.D. Rumah pengasuh Ponpes Ulil Albab KH.Didin Hafiduddin berdampingan dekat dengan masjid Al Hijri UIKA Bogor, dan disebelahnya berdiri Asrama Santri Ponpes Ulil Albab yg dihuni puluhan mahasiswa dari beberapa Perguruan Tinggi, bahkan ada dari UGM Jogyakarta spt Ismail Yusanto (mantan Jubir HTI) dll.

Jadi, orang yang tugas sehari-hari mengajar dan mengayomi para santri Ulil Albab adalah Almukkarrom KH Prof.Dr.KH.Didin Hafidudin sebagai salah seorang guru dan mentor Dr.Adian Husaini. Wajarlah kiranya adinda Adrian Husain. Ph.D, sekarang menjadi salah seorang Dosen Pascasarjana UIKA Bogor, untuk membantu gurunya KH Didin Hafiduddin yg kini sbg Direktur Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor hingga sekarang.

Berdirinya Ponpes Ulil Albab tahun 1980an, sekitar lk 40 thn lalu, telah melahirkan sejumlah kader dakwah Islam yg cerdas dan militan seperti Adrian Husaini dll. Hasil pendidikan Ulil Albab UIKA Bogor demikian terasa manfaatnya bagi ummat dan bangsa hingga kini, agar posisi ummat Islam Indonesia hendaknya tetap aman dan nyaman serta tidak terpinggirkan. Apalagi kita saat ini banyak dihadapkan dan dihadang oleh sejumlah tantangan dan “musuh” antara lain persaingan ekonomi dan perebutan sumberdaya alam dan jasa lingkungan, tetapi juga yang tidak kalah hebatnya yg cukup menantang adalah perang pemikiran intelektual melawan pikiran2 (mindset) yang sesat dan menyesatkan, baik yang bersumber dari kalangan ummat Islam sendiri spt aliran JIL, sekularisme, maupun yg datang dari luar (kaum kafirun dan munafikun). Disinilah peranan intektual spt Dr. Adrian Husaini sangat diperlukan dan beliau telah laksanakan secara profesional. Saya selaku seniornya merasa bangga, sangat mengapresiasi, dan kita patut bersyukur kpd Allah SWT dan berterima kasih kpd adinda Adrian.

Baca :  Perilaku Elite Politik yang Paradoks

Dalam tulisan saya ini, saya izinkan saya untuk menarasikan, siapa orang2 genius dan visioner yg ada dibelakang pendirian Ponpes Ulil Albab, selain ajengan alm KH Soleh Iskandar dll. Dia adalah senior saya di HMI, KAHMI Bogor dan ICMI, yang juga guru dan mentor saya adalah Prof.Dr.AM Saefudin. Saya sekitar thn 1983-1987 ketika saya menjadi aktivis HMI dan aktivis Grup Studi Folapmi Sanggar Felicia IPB, cukup sering berinteraksi dgn bpk AM Saefudin, semasa itu beliau menjadi Rektor UIKA Bgr. Beliau sering kami undang sebagai narasumber di forum FGD Folapmi (Forum Latihan dan Pengembangan Muslim Intelektual) di asrama Felicia IPB jln. Sempur 20 Kota Bogor, dan forum2 LDK dan Konpercab HMI Cabang Bogor. Bapak AM sebagai Rektor UIKA Bogor telah banyak membuat terobosan2 perluasan pembangunan kampus UIKA Bogor dengan sejumlah inovasi, antara lain karya beliau bersama teman2ngnya adalah berdirinya Pondok Pesantren (Ponpes) Ulil Albab. Saya berani berkata demikian, saya pernah keciptratan informasi dari bpk Prof. AM Saefudin, hingga sekarang memori saya masih ingat jelas, ketika thn 1986-1987 kami duduk berbincang di ruang masjid, setelah selesai sholat zhuhur berjemaah di masjid Raya Amaliyah Ciawi Bgr. Di waktu itu pak AM berkesempatan berkunjung ke kampus UNIDA Ciawi untuk suatu event/ acara ummat yaitu Seminar nasional dan Pertemuan Cendekiawan Muslim se Indonesia Menyongsong Masyarakat Era Industri-Informasi (tgl 8-9 Maret 1986).

Begini informasinya, Prof.AM Saefudin, selain menawarkan pekerjaan untuk saya di suatu tempat, dan saya jawab saya sdh bekerja sdg menyiapkan berdirinya UNIDA, beliau paham dan mendukung. Kemudian pak AM meminta saya untuk mencarikan calon pembeli tanah dan rumahnya di Pondok Indah Cinere Jkt, mau dijual oleh beliau, untuk mendapatkan sejumlah dana. Pak AM memperlihatkan fhoto copy surat2 tanah dan IMB serta sketsa lokasinya kpd saya.
Kemudian, saya pun balik bertanya buat apa uangnya bapak AM sampai menjual asset pribadi yg bernilai tinggi ini. Saya tanya begitu dgn penuh penasaran kepada bpk AM. Jawaban beliau,… kata bpk AM saya mau jual perlu dana untuk membangun Ponpes Ulil Albab yang tengah dikerjakan dan perlu suntikan dana pembangunan. Dana ini akan saya infak dan wakafkan untuk membangun sarana pengkaderan dakwah Islam, melalui program pembinaan mujahid kalangan mahasiswa muslim yg tengah belajar di Perguruan Tinggi, yang santri bisa mondok di Ponpes Ulil Albab.
Setelah informasi itu saya tidak mengikuti lagi perkembangannya. Apa tanah-bangunan terjual atau tidak? saya pun tidak tahu secara pasti, krn tidak mengikuti perkembangnnya. Akan tetapi yang tahu bahwa kegiatan2 Ponpes Ulil Albab yg digagas dan didirikan bpk AM Saefuddin terus berjalan dan berlanjut dengan menerima para santri yg banyak dari kalangan aktivis BKI IPB spt Adrian Husaini, Hendri Tanjung etc, yang kemudian banyak meluluskan sbg alumni Ponpes Ulil Albab, yang kiprah mereka sungguh membanggakan kita, seperti yg ditampilkan Dr.Adrian Husaini (pakar pemikiran dan kebudayaan Islam), Dr.Hendri Tanjung (pakar manajemen wakaf dan cukup banyak menulis buku), dan banyak lagi yang lain.

Dari informasi ini pelajaran apa yg bisa kitabpetik sebagai bahan pembelajaran kita generasi penerus dakwah. Menurut pendapat saya bahwa bpk Prof.Dr AM Saefudin (AM) ajengan KH.Sholeh Iskandar (SI) dan Prof.Dr.KH.Didin Hafiduddin (DH) dkk adalah manusia2 yg visioner yang selalu memikirkan peningkatan kualitas kader Ummat Islam untuk masa depan,ketika itu. Saya juga mengamati bahwa mereka2 ini merupakan individu yg memiliki kepribadian yg menarik dan memberikan suri tauladan, mereka adalah orang2 yang selalu siap berkorban untuk menjual harta pribadi yg mereka sayangi untuk kepentingan umnat. Seperti yang dicontohkan bpk AM, menjual rumah “mewahnya” di kawasan perumahan “elite” Pondok Indah Jaksel. Harap maklum bpk AM memang memiliki beberapa asset, beliau mampu membeli tabah dan bangunan karena cukup banyak mendapat rezeki Allah SWT, yang bersumber dari honor jasa2 konsultan, antara lain bekerja sbg tenaga ahli di Bank Indonesia untuk pengembangan small enteurprice (KUKM dan Koperasi) dll di masa itu. Saya juga pernah mengalami sbg tenaga jasa konsultan, lumayan utk menambah assets pribadi spt tanah dan rumah, sebagian diantaranya juga saya wakafkan untuk kepentingan dakwah. Apa yg saya lakukan tersebut sebagaimana dicontohkan senior saya di HMI dan Kahmi Bgr Prof.AM Saefuddin. Dalam ajaran QnS rezeki yang abadi untuk kita dapat nanti di akhirats (kehidupab setelah mati) adalah selain ilmu yg diajarkan bermanfaat dan anak sholeh yg mendoakan; Juga harta benda yg kita miliki dari sumber halal-toyyib, yang kemudian kita infakkan, sedekahkan dan wakafkan semasa hidup kita karena Allah SWT semata.

Baca :  Curhat Terhadap Pendidikan Dasar Anak-Cucu Kita

Saya dengan bpk AM komunikasi dan silaturrahmi tetap berjalan. Walaupun akhir2 ini agak jarang karena berbagai kesibukan. Tapi ada kenangan yang paling indah dengan pak AM, ketika beliau menjadi Menteri Pangan dan Hortikultura RI thn 1998-2000, saya di waktu itu menjadi Dekan Faperta UNIDA. Saya dkk mengundang beliau untuk menyampaikan orasi ilmiah di forum mahasiswa baru UNIDA thn 1999 Setelah itu, saya (Dr.Apendi Arsyad selaku Dekan), Rektor UNIDA bpk Drh.H.Abadi Soetisna MSi dan didampingi Ketua Umum BP Yayasan PSPI (bpk.alm Prof.H.Anton Timur Djaelani/Pendiri HMI di Jogyakarta) bersilaturrahmi di ruang kerja Menteri untuk ‘meminang’, mengajukan permohonan kepada bpk AM Saefuddin untuk bersedia menjadi Guru Besar Tetap di Faperta UNIDA, beliau ok bersedia. Alhamdullillah saya urus segala persyaratan dan bukti2 dokumen selama lk setahun untuk melengkapi bahan2 karya pak AM, yang tersimpan di beberapa Perpustakaan kampus PT, saya rekap untuk disampaikan ke Kopertis Wilayah IV di Bandung, dan Kemendiknas RI di Jakarta untuk diproses. Alhamdulillah Pak AM berhasil menjadi Profesor di bidang Ilmu Pemasaran Pertanian pada Program Studi Agribisnis Faperta UNIDA sejak thn 2000 hingga kini.

Ketika beliau pak AM berorasi dengan judul “Pasar Ekspor Hasil Pertanian Indonesia Era Liberalisasi Perdagangan” untuk jabatan Guru Besar di sidang senat terbuka yg banyak dihadiri para tokoh nasional dan para wartawan meliput acara di kampus Universitas Djuanda Ciawi Kabupaten Bogor pada tgl 3 Juni 2000. Pada waktu itu, beliau sempat berseloroh di atas mimbar dengan senyumannya yg khas sambiil berucap bahwa Saya..”AM adalah Profesor Millenial…” karena sudah mendapat SK Guru Besarnya dari Presiden RI melalui Mendiknas RI terhitung sejak tgl 1 Januari 2000. Begitulah bukti hubungan baik saya dengan mantan Rektor UIKA Bogor bpk Prof AM Saefuddin, yg merintis pendirian Ponpes Ulil Albab Bogor, dimana Dr.Adian Husaini menimba ilmu agama dan kepemimpinan.

Itulah inspirasi dan pelajaran (ik’tibar) yang kita dapat dari para senior dan sesepuh (SI, AM dan DH) kita, yang memiliki hati mulia, berpikir cerdas dan memiliki visi jauh kedepan, berkorban, untuk mendesain kader dakwah Islamiyah yg berkeunggulan. Alhamdulillah, salah satu karya mereka adalah berdirinya Ponpes Ulil Albab di Kampus UIKA Bogor dan berhasil mencetak sejumlah alumninya sbg kader Ummat yang kini berkiprah nyata dalam kehidupan masyarakat untuk menjaga marwah dan azzam Ummat Islam Indonesia, antara lain seperti adinda Dr.Adian Husaini yg telah sukses melakukan misinya, InsyaAllah barakallah.

Demikianlah narasi singkat tentang Ponpes Ulil Albab dan Alumninya. Mhn maaf jika ada hal2 yang kurang berkenan di hati, yang ditemukan dalam tulisan ini bahasanya kurang pas. Wallahua’klam.

Semoga Allah SWT selalu melindungi dan menolong kita hamba2Nya yang sholeh, dan konsisten berjuang untuk keberhasilan dakwah Islamiyah di negeri yg kita cintai ini..NKRI harga mati.

Wabillahi taufik walhidayah Wr Wb

Penulis adalah Pendiri-Dosen Senior Universitas Djuanda Bogor/Pendiri-Wakil Ketua ICMI Orwil Khusus Bogor dan Sekretaris Wanhat KAHMI Daerah Bogor, dan aktivis Ormas lainnya di Bogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here