Nostalgia Sepeda “Raleigh” Tuo Tempo Doeloe

0
Nostalgia, Sepeda, Raleigh, Tempo Doeloe, Apendi Arsyad
Seorang bocah sedang menaiki Sapeda kuno merk "Raleigh"

Oleh: Dr. Apendi Arsyad

Terima kasih adinda Yulizar/Seniman besar Caghonti memposting gambar sepeda “ontel” pada zaman doeloe di tanah Jawa, beberapa hari lalu postingannya saya lihat. Sebenarnya ketika melihat foto tersebut, bangkit seketika saya ingat (memori) masa lalu untuk bercerita tentang sepeda merk “Raleigh” (baso Conti sepeda Relly) produk buatan Inggris.

Sepeda Tuo itu milik alm ayahku H. Arsyad bin Kahar seorang pekerja keras dan memiliki mobilitas yang tinggi untuk berpergian di kampuang di masa itu. Sepeninggalan ayah sepeda tersebut ongaku yang tertua yang mewarisi dan merawatnya. Tapi yang banyak memakainya adalah saya untuk membantu kakakku (onga) dalam bekerja membeli karet (ghota latex dan boku), juga untuk bergembala sapi di daerah Sianyir antara Desa Kampung Baru dan desa Sikakak. Kemudian juga sepeda Tua itu saya gunakan juga untuk berangkat ke dan pulang dari sekolah di SMPN Cerenti, jaraknya lk 3-4 km dari rumahku.

“Sepeda Tuo” (basikal baso Caghontinya) yang diwariskan almarhum ayah kepada kami, sungguh banyak manfaatnya dan jasanya. Maklumlah sarana transportasi andalan di masa itu yang terhebat dan terbanyak hanya sepeda “kayuah” ini seperti gambar yang posting adinda Yulizar itu. Sepeda Tua tersebut disebut juga sepeda “reseng”, sedangkan di tanah Jawa dinamakan sepeda “ontel”. Adapun sepeda motor apalagi mobil pribadi (minibus) di masa itu, amatlah jarang ditemukan dan dimiliki ughang kampuang awak. Kalau pun ada dapat dihitung dengan jari (hanya sedikit). Oh ya doeloe memang ada sabuah (ciek) sepeda motor besar, yang diberi namo “motor fit” milik tauke Cino Caghonti, namonyo Yumeng, sedangkan yang lain nampaknya tahun 1970an tidak ada sarana transfortasi milik pribadi yang kita lihat di kampuang, seperti halnya sekarang yang melimpah jumlahnya dengan berbagai merk.

Baca :  Siapa Sebenarnya Si "Kambing Hitam" itu ? dan Ciri-cirinya

Mereka yang mempunyai produk sepeda “Relly” impor dari luar nagori di masa itu seperti sepeda bermerk “Releigh” (baco Relly) tersebut tidak juga banyak. Sepeda bermerk itu sudah termasuk barang mewah yang dimiliki oleh masyarakat kelas menengah atas yakni para saudagar antara lain ayah saya tempo doeloe.

Begitu banyak cerita nostalgia pemakaian sepeda Tua “Releigh” ini bagi saya pribadi. Izinkan saya bernarasi sedikit, bernostalgia tentunya tentang hal “persepedaan” ini.

Sepeda Tua merk “Raleigh” warisan almarhum ayahku, sungguh banyak jasanya di keluarga besar kami. Ketika saya masih duduk sebagai pelajar SMPN Cerenti thn 1973-1976, sebelum saya berangkat ke kota Pekanbaru Riau untuk melanjutkan studi SMA (SMPN No.49 Pku doeloe), sepeda Relaig banyak dipakai untuk berbagai keperluan.

Sepeda Relly digunakan untuk belajar ke sekolah SMPN Cerenti sebagaimana telah saya ceritakan diatas. Sewaktu menjalani masa pelajar ini, sepeda juga dipakai waktu perjalanan pulang sekolah, membawa (membonceng) sang “pacar”, cinta “monyet” seorang gadis berparas cantik, dia pelajar SMP ikut naik sepeda Rellyku itu, namanya tidak perlu disebutkan disini. Memang begitulah nasib seorang pelajar yg bermodalkan wajah “pas-2an” dan terus meraih juara kelas dan juga vokalis/gitaris band pelajar SMPN Cerenti tahun 1974an tempo doeloe, ada saja diantara pelajar wanita yang mau mendekat (ha ha ha …geer…?)

Terkadang sepeda Rally juga digunakan membawa rumput hasil “sabitan” untuk ternak sapi (jawi). Biasanya saya menyabit rerumputan yg hijau dan subur ada di lahan pekarangan belakang sekolah SMPN Cerenti. Saya manfaatkan waktu untuk menyabit rumput pada saat waktu istirahat jam pelajaran, alhamdulillah dapatlah se-karung goni berukuran sedang.

Baca :  Menulis untuk Kemajuan Negeri

Sepulang dari sekolah, setelah makan dan sholat zhuhur di rumah omak, saya berangkat memakai sepeda Rally ke daerah padang pengembalaan Sapi (baso Conti, Jawi) namanya Sianyir, yang lokasinya terletak antara Desa Kampung Baru Timur dengan Desa Sikakak Kec. Cerenti.

Mengembala Sapi atau Jawi dengan menunggu di panggung padi – sawah (rumah pangguang) adalah pekerjaan rutinku, sungguh menyenangkan, sambil melihat-lihat 3-5 ekor Jawi (milik onga Sulungku) sedang memakan rerumputan di padang pengembalaan Sianyir. Juga tak lupa sambil saya membaca buku-2 pelajaran sekolah, yang saya jepitkan di bonjengan belakang sepedaku, dan “sepeda Tua Rally” pun yang menyertai kehidupannku disandarkan di pangguang (sawung-sawah) yang ada disiitu. Setelah Jawi kenyang dan diberi minum di sungai, dan sore harinya sejumlah ternak Jawi (Sapi) dimasukkan ke kandang, yang lokasinya tidak jauh dari daerah padang pengembalaan itu.

Selanjutnya, pulanglah saya dengan menggenjot pedal sepeda, bahasa Cerentinya “mengayuah” sepeda Tua Rally dengan kondisi jalan yg mendaki, terjal, sempit dan terkadang berlubang-lubang untuk kembali ke rumah dengan selamat. Dari pengalaman, pada mulanya naik sepeda ini pantat terasa pegal, dan capek menggenjot pedal (ponek mangayuah), tetapi kemudian setelah menjadi kebiasaan sehari-hariku (my habit) rasa pegal pun hilang karena tubuh sudah kebal dengan “mangayuah”.

Begitulah ceritanya menurut dinamika waktu dan siklus kehidupan di masa remaja saya di kampuang, bahwa Sepeda Tua “Ontel, Reseng dan Rally” tersebut telah banyak berjasa dan bahkan mengisi sepenggal perjalanan hidupku di masa kecil (nostalgia) di Desa Kampung Baru Cerenti. Saya menjalaninya sebagai anak pengembala sapi (jawi) dan pelajar SMP berstatus anak yatim yang harus hidup prihatin, belajar dan bekerja keras agar di sekolah tetap berprestasi menjadi bintang pelajar dan meraih status juara umum yang menentu masa depan, serta membahagiakan ibunda (omakku), alhamdulillah.

Baca :  Keramahan dan Gaulnya Urang Caghonti

Sekarang saya tidak tahu persis “nasib” sepeda Rally tersebut, dimana gerangan Sepeda Tua itu berada kini ?, apakah sudah rusak, hilang atau dijual oleh Dunsanak di kampung ?.

Tapi saya tidak salah pernah melihatnya 3-4 tahun lalu “sepeda Rally” tersebut masih ada, dipakai ke kebun sawitnya dan ke pasar oleh abang iparku H. Abbas Main (abah kmd Yean Asnudi, Sp, MPd), pensiunan guru agama dan Ketua LAM Cerenti.

Apa ya sepeda yang doeloe warisan ayahku masih ada? Saya pun tidak tahu persis. Sepeda Tua Rally produk impor itu memang sangat tahan lama, terutama besi bingkai (batang sepeda) sangatlah kuat sudah lebih seratus tahun umurnya masih saja utuh dan kuat membawa beban, mengangkut hasil-2 pertanian dari kebun dan sawah-ladang di masa itu.

Mudah-2an sepeda Rally-ku itu masih ada disimpan oleh Dunsanak awak, dan kalau perlu bisa kita “museumkan” untuk sarana bernostalgia yang berfungsi menghibur diri dan keluarga, para dunsanak.

Sekian dan terima kasih, terutama buat adinda Yulizar yang telah memposting Sepeda Tua (Basikal kuno, old basicycle) itu untuk bernostalgia. “Salam kayuah” (salam sepeda maksudnya). Maafnya ya jika ada di narasi ini yang kurang berkenan di hati para Dunsanak sekalian. Syukron barakallah. Amin-3 YRA.

Dr.Ir.H. Apendi Arsyad, MSi (Pendiri-Dosen/Assosiate Profesor di Universitas Djuanda Bogor, Konsultan K/L, dan Aktivis beberapa Ormas di Bogor dan Nasional).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here