Pada tahun 2013, rombongan jemaah hajjinya sangat padat sekitar 2.3 juta orang jemaah hajji masuk- tumplek di kota suci Mekkah dan Madinah, bandara Jeddah dan Madinah serta jalan raya (tol) pun dipenuhi jemaah calhajj sangatlah padat dan juga tingkat kebisingan begitu tinggi.
Sesampai di kota Mekkah dan Madinah tampak para tamu Allah sangat ramai dengan berbagai aktivitas ibadahnya, dan bukan ibadah seperti berbelanja di pasar, dan atau jiarah (plesiran) ke lokasi-lokasi bersejarah, destinasi wisata religi yang ada di sekitar kawasan Mekkah Almukkaromah spt lokasi perjanjian Hudaybiyah, Gua hira, dll. Sedangkan di Madinah jangan lupa berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW, dsb.
Pengalaman saya AA bersama istriku beribadah berhaji lk 10 tahun yang lalu, izinkan saya akan menarasikannnya dengan harapan berbagi pengalaman, mana tahu ada manfaatnya.
Pada saat saya beribadah wukuf di padang Arafah pada tahun 2013 itu, seketika itu saya mendapatkan kesan dan kenangan yang cukup manis dan mengesankan,
mengingatkan (sweet memory). Saya bersama istriku yakni Ocu dan Amai, berada di padang Arafah Saudi Arabia mendapat berbagai jenis pengalaman spiritual keagamaan, yang sulit diungkapkan kata-kata dalam tulisan ini.
Walaupun cuaca begitu panas pada siang itu, namun ibadah wukuf tetap berjalan khusuk, berzikir mengingat kebesaran Allah, talbiyah, beristighfar atas dosa, dan berdoa minta keselamatan hidup di dunia (terutama keluarga dan kerabat) serta berdoa untuk kehidupan akhirat bahwa semua kita makhluk bernyawa akan mati (wafat).
Suasana wukuf padang Arafah, ketika itu ada juga peristiwa naas yang mengejutkan; tenda-tenda (kemah) sudah ber-AC roboh disebabkan pada malam harinya disiram hujan dan diterjang angin kencang. Sebagian tenda-tenda (camp) rombongan rusak dan terbang, tapi terjadi di maktab yang lain, alhamdulillah bukan di kemah kami.
Selama ibadah wukuf di padang (gurun sahara) Arafah itu, saat berhajji hari ini kita dianjurkan untuk membaca doa-doa serta memperbanyak membaca kitab suci Al Quran, berzikir mengingat kebesaran Allah SWT, dengan bertasbih, tahmid dan takbir, serta beristighfar minta ampun kepada Allah SWT atas perbuatan berbagai dosa yang dilakukan selama ini, sambil berderaikan air mata bagi mereka yang merasakan emosi-berhaji. Kemudian kita di tenda (siang atau sore ini) mendengar khotbah yang disampaikan oleh ustadz pendamping jemaah haji kloter yang sama.
Selanjutnya, kita mendengarkan khutbah wukuf pada siang/sore ini di tenda agak besar dengan khusu dan tawadhu, sambil terus berzikir, membaca talbiyah baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri (Allahumma Labbaik), dan berdoa meminta keselamatan hidup baik di dunia maupun akhirat, serta banyak-banyak minta ampun kepada Allah SWT, melafazkan kalimah “astafgfirullah”, minta ampun atas segala dosa yang pernah kita diperbuat selama ini di dalam kehidupan pergaulan sosial kita dan kelalai kita dalam mengamalkan perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.
Barang tentu, dengan doa dan sholat yang khusu selama di tanah suci, dan banyak beristighfar (baca Q 2 (195 sd 200), saking khusuknya terkadang tanpa sadar air mata kita pun berlinang di pipi, karena mengingat kebesaran Tuhan Allah SWT Sang Maha Pencipta (Al Khalik). Harapan kita dengan banyak berdoa, semoga Allah SWT mengkabulkan dan diijabah Allah sehingga memperoleh hajji yang mabrur/mabruroh (maaf bukan hajji “mabur”, suka kabur dari ritual menimba pahala dari Allah SWT).
Pada saat wukuf di padang Arafah di saat-saat ini, kita manusia akan merasakan sebagai hambaNya, kehadiran kita pribadi tidak ada apa-apanya, diantara lautan manusia (jutaan manusia) yang memenuhi padang pasir Arafah.
Pengalaman saya ketika itu, di sela-sela waktu beribadah wukuf di padang Arafah, sejenak keluar dari tenda, menatap lautan manusia yang memutih memenuhi areal perkemahan, dimana posisi (status) kita sama dihadapan Tuhan Allah dengan simbol berpakaian ihram, memang tidak tampak manusia kaya-miskin, cerdas-awam, pejabat-rakyat, dsb, semuanya sama.
Dari gejala sosial yang seperti itu, yang pernah dialami maka pada waktu otakku mulai menangkap, merenung dan berpikir mungkin beginilah kita jalani nanti suasananya di padang Mahsyar, setelah wafat bahwa semua kita akan menghadap Allah SWT Sang Khalik, dimana status kita sama sebagai hamba Allah, akan dihisab segala pahala dan dosa untuk menentukan status kita sebagai penghuni surga (golongan kanan) atau penghuni neraka (golongan kiri).
Maka, beruntunglah mereka yang lulus golongan kanan, wajah mereka berseri-seri dan berbahagia, dan sebaliknya mereka masuk golongan kiri wajahnya hitam- suram, bersedih, sengsara dan mendapat azab yang pedih, sebab semasa hidup di dunia gemar berbuat dosa dan zholim antar sesama manusia.





