Pulang Kampung yang Membahagiakan

oleh -1,168 views

Doeloe Pulau Tonga yang bergundukan pasir putih tersebut adalah tempat atau “lapangan” saya bermain bola bersama kawan-2 “bocah” sepermainan. Cukup seru dan asyik pertandingannya, grup yang kalah buka baju. Untuk sampai ke lokasi ini, saya dan kawan-2 bocah berenang lk 10-20 menit utk sampai ke lokasi berpasir ini, tanpa ada rasa takut digigit atau diterkam buaya sungai.

Air sungai DAS Kuantan ini, di musim hujan permukaan sungai menaik, cukup keruh akibat banyaknya sedimentasi longsoran tanah dan penggundulan hutan tropis (deforestry) akibat negatif perluasan kebun Sawit milik para oligarki yang mengabaikan kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan/SDAL (ekosistem hutan dan DAS Kuantan), dan dampaknya terkadang terjadi banjir, air badan sungai meluap, yang melanda perkampungan penduduk desa Pulau Jambu, desa Sikakak dan desa Taluk Pauh.

Baca :  Membangkitkan Batang Tarondam

Posisi berdiri saya AA di belakang rumah warisan orangtuaku itu, merupakan salah satu “spot” yang bagus untuk pengambilan gambar (berfhoto) berlatar belakang fanorama alam DAS Kuantan Saya menikmati keindahannya. Setiap pulang kampung (pulkam) saya selalu mengabadikannya lewat kamera, dan sekarang zaman millenial ini cukup dengan bidikan Handphone (Hp) yang ada di tangan, sehingga cukup banyak koleksi fhoto/gambar yang saya miliki.

Jika melihat fhoto-2 itu, sungguh menakjubkan dan pikiranku menerawang ke masa tempo doeloe masa kecil, usia remaja tempat mandi, berenang di badan sungai yg lebar lk 15 meter, dan bermain bola di pasir pantai Pulau Tonga dan Desa Pulau Jambu, yang penuh kenangan manis (sweet memory).

Baca :  Pelurusan Sejarah Kuansing

Kini semua pemandangan DAS Kuantan sudah banyak berubah bentang alamnya (lanscaping) dan ekosistem perairannya akibat kuatnya erosi dan abrasi, dimana tebing-tebing sepanjang tebing sungai Kuantan, tepatnya di daerah Bukit Gudang Desa Kampung Baru Timur Cerenti, daerahnya, lokasinya persis di belakang rumah “soko tuo”, sejak berpuluh-puluh tahun mengalami longsor (tobiang ghuntua, bahasa lokal Cerenti) hingga kini. Situasinya sudah memporak- poranda dapur dan bahkan beberapa rumah penduduk di sekitar tebing longsor (“ghuntua”).

Jarak tebing DAS Kuantan, yang longsor dengan badan jalan raya nasional yang menghubungkan Kota Pku-Rengat tinggal lk 10 meter lagi. Saya sudah sejak lama menyuarakan melalui lisan dan tulisan yang ditujukan kepada pihak Pemerintah (pusat dan daerah), meloby para petinggi negeri (Bupati Kuansing dan Gubri), akan tetapi hingga sekarang belum juga ada perhatian. Observasi lokasi sudah dilakukan para pejabat dan wakil rakyat.

Baca :  Kritik Mahasiswa UNIKS vs Sikap Plt Bupati Kuansing

Mudah-mudahan tahun depan sudah ada tindakan nyata untuk mengatasi masalah bencana alam tanah tebing longsor tersebut. Saya sangat khawatir, dengan adanya tebing longsor yg “dibiarkan” itu, jangan sampai memakan korban nyawa penduduk setempat, dan putusnya jalan raya sebagai urat nadi perekonomian rakyat di daerah Riau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *