Pelajaran Dibalik Banjir Bandang di Puncak Bogor

0
Banjir Puncak, Danrem 061, Penanganan, Bencana
Terjadi bencana banjir bandang di area Perumahan Karyawan PTPN VIII Gunung Mas, Kawasan Puncak Bogor, pada Selasa 19 Januari 2021. [File: Penrem 061]

Oleh: Dr. Apendi Arsyad

Astaga…. Astaghrullahalaziem, …banjir bandang menerjang lagi di daerah pemukiman penduduk di kawasan Puncak, sekitar Kecamatan Cisarua tepatnya di perkampungan Desa Tugu Selatan, Kabupaten Bogor, terjadi tebing longsor, termasuk juga beberapa desa-2 di daerah Cianjur Jawa Barat, daerah perbukitan diketinggian diatas lk 1000 m dpl.

Kejadian bencana alam tersebut terjadi pada hari Selasa 19 Januari 2021 sore dan malam harinya terjadi tanah longsor, pepohonan bertumbangan dan beberapa jalan desa-2 di kawasan Puncak Bogor sampai terputus. Hal ini akibat dari curah-hujannya yang begitu tinggi dan lama durasinya, disertai angin kencang (puting beliung) melanda kawasan hutan lindung (pohon pinus dll).

Jika kita mengikuti pemberitaan tentang peristiwa bencanaan alam ini,
ternyata memang begitu banyak kasus seperti ini, tidak saja banjir bandang dan tanah longsor di kawasan Puncak Bogor saja terjadinya, akan tetapi sudah terjadi juga di beberapa belahan daerah lainnya di Indonesia seperti di daerah Bintan Kota Tanjung Pinang Provinsi Kepulauan Riau, daerah Lebak Banten, Pongkor Kab. Bogor, Sumedang, Garut, Manado, Bandung Selatan dll, termasuk terakhir di beritakan peristiwa banjir besar, bencana hidrometeorologi di kawasan Kalimantan Selatan yang cukup parah.

Jika membaca pemberitaan banjir bandang, tanah longsor dan tumbangnya pepohonan, yang dimuat di HU Radar Bogor dan Pakuan Raya (Pakar) Bogor, serta beberapa postingan gambar kejadian bencana alam tersebut di medsos, membuat hati kita ini merasa miris; prihatin dan barang tentu kita berempati dengan nasib saudara-2 kita yang menderita tersebut.

Memang kita saat ini berada pada suasana “duka” di era pandemi Covid 19, bukan saja sekian banyak manusia yang sakit dan meninggal. Tapi bencana alam lainnya juga secara beruntun terjadi seperti gempa bumi yg meluluh lantahkan rumah-2 penduduk, jembatan dan gedung; gunung meletus dengan keluar muntahan lahar dan debu panas, sehingga menyebabkan angka pengungsian penduduk yg sangat banyak di daerah-2 yg dianggap aman; dan banjir bandang-tanah-longsor dan angin puting-beliung (angin topan) yang menghancurkan perkampungan penduduk di perbukitan dan daerah badan sungai (DAS) di banyak daerah di Indonesia.

Bencana alam ini menurut sains kebencanaan ini bisa dibagi dua yaitu: 1. bencana alam yg bersifat alamiah yg bukan disebabkan ulah manusia seperti gempa bumi, gunung meletus dan musim hujan- kemarau etc; dan 2. Bencana alam yang disebabkan ulah perilaku manusia yang jahat dan telah merusak keseimbangan alam (fungsi-2 ekosistem alam) seperti pencemaran bahan berbahaya beracun (B3) dalam bentuk zat padat (logam berat), cair (liquit) dan gas (emisi) yang dibuang dan masuk mengalir ke lingkungan tanah-air-udara baik di sengaja maupun tidak, tanah longsor di perbukitan dan banjir bandang serta erosi dan sedimentasi DAS, deforestry akibat illegal-loging dan kebakaran hutan, tumpahan minyak di perairan laut (oil spill), matinya biota-2 di ekosisten perairan akibat pencemaran limbah dan sampah plastik ke lingkungan sungai dan laut, dan banyak lagi contoh-2 kejahatan lingkungan yang diperbuat oleh manusia yang bodoh dan bermoral serakah (moral hazard) di era millenial hingga saat ini.

Kesemua bencana alam tersebut sebenarnya atas takdir (qodo dan qodar) dari Tuhan yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur Allah SWT, jika kita berpikir atas landasan beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT (bertauhid), yang tertulis firman-2 Allah dalam kitab suci Al Quranulkarim dalam beberapa ayatNya (QS).
Salah satu firman Allah itu yang cukup populer adalah sebagaimana peringatan Allah SWT dalam QS Ar Ruum ayat 41. terjemahannnya berbunyi:

“Kerusakan telah terjadi di darat dan lautan karena dosa-dosa yang dilakukan oleh tangan-2 manusia, biar mereka dapat merasakan dari apa yang mereka lakukan, agar mereka mau kembali (bertaubat).

Berdasarkan ayat ini apabila kita merenungkan maknanya, sejumlah bencana alam yg diberikan Allah SWT merupakan teguran, peringatan dan pelajaran kepada seluruh ummat manusia yang telah berperilaku menyimpang dari hukum-2 Allah (sunnatullah, QnS), gemar berbuat maksiat, sombong dan serakah serta kafir (musriq, fasiq dan munafiq) sehingga Allah SWT menimpakan musibah, azab dan laknat secara bertubi-tubi.

Dengan gejala alam seperti ini seharusnya kita sadar, ingat akan peringatan dan teguran yang keras dari Tuhan Allah SWT untuk kita kembali ke fitrah manusia yg hanif dan dhomir (kebenaran sesuai kata hati). Dengan kata lain, kita harus bertaubat, kembali ke kesucian jiwa dan pikiran kita untuk hijrah dari perilaku jahat yang telah merusak ekosistem alam kembali ke perbuatan kemaslahatan dan kebajikan, salah satu kita wajib melestarikan sumberdaya alam dan menjaga lingkungan hidup yang tetap bersih, asri, indah yang menawan hati dan sehat (healty).

Mengapa kita wajib melestarikan ekosistem alam dan lingkungan hidup sebagai prasyarat mutlak untuk mewujudkan konsep/cita-2 pembangunan berkelanjutan (sustainaible development) dengan 17 tujuan dan sasarannya (SDGs), karena ada beberapa alasan yaitu:

1. SDA adalah penyedia sumber pangan dan energi bagi pemenuhan keburuhan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya (flora dan fauna)

Baca :  Tim DMC DD Diterjunkan ke Lokasi Bencana Puncak Bogor

2. Ekosisten Alam dan lingkangan sebagai penopang utama sistem kehidupan umat manusia dan makuk hidup lainnya (life supporting system) spt ekosistem hutan sebagai habitat aneka flora dan fauna (satwa), pengatur iklim (supply oksigen, penyerap gas beracun CO etc, siklus hidrologi (tata air) dsb. Munculnya bencana alam tanah longsor, banjir bandang, erosi, sedimentasi dll bisa kita pahami dengan konsep dan teori ilmu-2 lingkungan menggunakan konsep dan teori “life suplorting system) secara menyeluruh (holistik) dan sistemik;

3. Lingkungan sesuai dengan kapasitas daya dukungnya (carring capacity) berfungsi melarutkan, mengassilimilasi bermacam-macam buangan limbah padat, cair dan gas yang bersifat bisa dihancurkan mikroba-2 (biodegradable) dan limbah (waste, residual) tidak diperbolehkan dibuang ke lingkungan melebihi daya dukung (over carring capacity, overexploitation, overhavest, etc). Jika itu yang diperbuat manusia, maka ulah manusia itu disebut telah mencemarkan lingkungan. Akibat pencemaran ini berbahaya bagi kesehatan dan mengancam nyawa manusia dan makhluk lainnya di muka bumi yang hanya satu-2nya ini; dan

4. Ekosistem alam dan lingkungan hidup berfungsi dan berperan vital sebagai penyedia jasa-jasa lingkungan (environment services) yang sangat dibutuhkan seluruh umat manusia dimana pun berada dan kapan keberadaan sebagai habitat hidup mereka di muka bumi yang hanya satu ini.

Contoh misalnya kebutuhan manusia untuk berwisata alam (ecotoerisme, ecomarine toerisme etc) di daerah pegunungan (kawasan puncak), lembah/ teluk, atas dah bawah laut, kawasan pantai dan resort pulau-2 kecil; juga transportasi di perairan DAS, laut dan udara; stabilitas iklim mikro dari ekosistem hutan seperti yang terjadi di kawasan Kebun Raya Bogor; dan laut penghasil oksigen dan penyerap carbon; serta keindahan pantai pasir putih dan arus gelombang yg enak untuk berselancar, enak berjemur dan mandi; dan kenyaman (udara segar) daerah perbukitan dan pegunungan sebagai destinasi wisata yg luar biasa besar magnitude-nya etc.

Keempat fungsi tersebut banyak kurang dipahami dengan baik dan dikhayati Pemerintah dan rakyatnya serta stakeholders lainnya.

Itulah sederet kegunaan dan manfaat ketersediaan fab keberadaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (SDAL) yang telah diciptakan oleh Tuhan Allah SWT secara beraturan (apik) untuk menopang kehidupan berbagai makhluk di muka bumi ini, terutama makhluk manusia sebagai hamba dan khalifah fil ard.
Dari pengetahuan seharusnya ummat manusia sadar dan peduli untuk menjaga, melestarikan dan memanfaatkan SDAL

Dalam gambar postingan di media sosial, penduduk panik, berteriak histeris, menangis, berlari bergegas entah kemana, panik dan ada yg mengendarain sepeda motor untuk menghindar dari limpahan air yang menggenang dan menerjang bibir-tebing perbukitan di kawasan puncak Bogor.

Jika melihat fenomena bencana alam ini, kita menjadi teringat akan peristiwa bencana alam tsunami di Nangroh Aceh Darussalam (NAD), Desember 2004 yg mengenaskan itu. Tapi kejadian di Puncak Bogor tidak separah kasus di daerah pesisir barat Aceh. Kerusakan ekosistem pesisir NAD, saya pernah melihatnya langsung ketika ada tugas survey proyek di Provinsi NAD thn 2006, memang kehancuran lanscape alam kawasan pesisir dan pantai cukup berat dan banyak memakan korban manusia, dilihat beberapa pusaranya.

Kita berdoa dan meminta dengan penuh harap, Ya Allah ya Rabb, hilangkanlah bencana-2 yang banyak menimpa bumi ini dan membawa korban nyawa dan harta dari hamba-2Mu dewasa ini.

Alhamdullillah Kawasan perapatan Ciawi, yang termasuk kawasan Puncak Bogor cukup “aman”, sepanjang hari (2-3 hari ini) dalam keadaan cuaca mendung, berawan hujan tebal merata di langit, awannya berarak ke arah kawasan puncak di pagi hari tadi. Sekali-kali hujan turun tapi tidak terlalu deras di Ciawi. Suhu agak dingin, tidak seperti biasanya.

Saya coba amati iklim dan cuaca dari lantai atas (balkon) rumahku pada hari Senin itu, awan hitam yang bergerak dari arah Jakarta ke selatan kawasan puncak Bogor begitu padat, dan memang sudah saya duga waktu itu bakal terjadi curah hujan lebat di daerah Cisarua dan Cianjur Jawa Barat. Ternyata benar dugaan saya terjadi banjir bandang menimpa desa perbukitan Tugu Selatan, dekat kebun teh PPN Gunung Mas Puncak Bogor. Dalam gambar postingan penduduk desa Tugu Selatan berhamburan lari untuk menyelamatkan diri dan kini banyak mengungsi mencari daerah-2 yang dianggap aman, dengan kondisi “kamp-2” pengungsian agak memprihatinkan.

Sebenarnya kasus banjir bandang dan tanah longsor di perbukitan di kawasan Puncak Bogor tersebut karena kawasan Puncak, daerah Cisarua Bogor dan Pacet Cianjur) sudah bisa diprediksi bakal apa yang terjadi. Karena beberapa dasawarsa belakangan ini telah berlangsung alih fungsi lahan hutan besar-2an menjadi villa, hotel, restoran mewah di areal kemiringan 45 derajat (tanah gawir yg sesungguh terlarang menurut UU, tapi lulus IMBnya?), warung-2 liar, arena wisata sport terbang (Paralayang), dan pemukiman penduduk juga yang kian bertambah akibat laju pertumbuhan penduduk secara alamiah.

Sejumlah bangunan yang ada, jika kita amati desain kontruksi/rancang bangunan tidak ramah lingkungan, membangun tidak mengikuti kountur lahan (not-design with nature), tapi dilakukan merubah bentangan alam dengan cara “cut and fill”. Saya saksikan sendiri, ketika melakukan tugas supervisi praktek kerja lapang (pkl) mahasiswa Agribisnis UNIDA bimbingan saya di lokasi Tugu Selatan Cisarua Kabupaten Bogor setahun lalu sebelum pandemi Covid-19.

Baca :  HMI Sulteng : Perusakan Rumah Ibadah Tumaluntung Harus Menjadi Pelajaran

Perubahan bentangan alam (natural lanscaping) dari kawasan perbukitan yang hijau, lembah dan curam, kini sudah banyak berganti “hutan beton”, terutama di daerah lahan berkemiringan curam (45 derajat) pun bermunculan sejumlah bangunan hotel mewah dll yang melanggar tata ruang (RTRW dan RUTR), baik resmi dan liar (tanpa IMB). Daya dukung lahan pegunungan tentunya akan berkurang, labil untuk penahan erosi agar tidak terjadi longsor karena pepohonan dan vegetasi semuanya hilang, kini berganti beton.

Masuk di akal kiranya, ketika hujan lebat terjadi dan berlangsung waktunya yang lama (berhari-hari), struktur tanah tidak mampu menyerap volume curah air hujan (run off) yang tinggi, maka terjadilah banjir bandang dan tanah longsor di kawasan puncak Tugu Selatan Kab.Bogor itu, tidak terlelakan lagi. Selain itu, pepohonan Vinus pun bertumbangan diterjang angin puting-beliung akibat cuaca ekstrim tersebut sehingga menutup akses dan jalur jalan desa dan kecamatan yg vital bagi mobilitas warga, sebagaimana isi pemberitaan di massmedia.

Issu-2 dan narasi problem lingkungan hidup seperti yang dikemukakan ini sebenarnya tidaklah baru, sudah umum kita ketahui dan diikuti informasinya melalui media massa seperti al: HU Kompas Rabu 20 Januari 2021 berjudul “Kerusakan Lingkungan Picu Banjir Bandang” di Kalimantan Selatan (halaman 11 Nusantara, HU Kompas). Begitu jelas data dan faktanya bencana alam tersebut akibat ulah tangan manusia merusak ekosistem hutan di bagian hulu DAS, disebabkan kebodohan (lemahnya kesadaran spiritual), angkuh-sombong, serakah (greedy), hidup mewah-glamour (hedon) dan gemarnya merusak ekosistem alam (bagian hulu DAS, deforestry) serta mencemari lingkungan baik dilakukan secara individual dan atau koorporasi.

Majalah Tempo edisi tgl 14-20 September 2020 pernah mengungkapkan kasus kejahatan lingkungan oleh perusahaan-2 (koorporasi) di kawasan hutan Kalimantan, Sumatera, Papua dll. Hasil investigasi yang dilaporkan, berjudul cover majalah “Koorporasi Api”, diperoleh informasi melalui kolaborasi Tempo bersama NGO Mongabay, Betahita, Malaysiakini dan Auriga Nusantara, menemukan jejak keterlibatan sejumlah perusahaan kehutanan dan perkebunan Sawit dalam kebakaran hutan yang hebat setahun lalu (Majalah Tempo, 2020).

Tapi sayang kita semua tahu, terutama para pemimpin bahwa Pemerintah/ penegak hukum seolah-olah tidak berdaya mengendalikan para pengusaha besar (kaum oligarki), dan sesungguhnya ada kelalaian dan ketidakmampuan untuk mengendalikan kejahatan para oligarki di negeri ini. Juga masyarakat dan penduduk lokal terkadang ikut andil dalam pengrusakan ekosistem hutan alam dan lingkungan hidup, bahkan disinyalir oknum penduduk lokal diperalat oleh pemilik kebun sawit untuk membakar lahan yang dibuka untuk perkebunan.

Selain itu, begitu banyak rakyat di desa-2 mengolah lahan pertaniannya dengan cara tidak ramah dan merusak lingkungan hidup (misalnya lanscape lereng perbukitan), membakar vegetasi, menebang pohon tanpa ada peremajaan terlebih dahulu dan sikap-2 tak terpuji lainnya. Hal ini karena SDM kurangnya pendidikan etika dan moral lingkungan (kebodohan) dan tidak sadar dan tidak paham bahwa ada 4 (empat) fungsi strategis SDAL yg vital untuk menopang sistem kehidupan (life supporting system) sebagaimana dijelaskan diatas. Hal itu banyak tidak dimengerti oleh warga masyarakat, dan bahkan juga pemuka masyarakat, pelaku usaha/investor dan para pemimpin negeri ini, sehingga perbuatan merusak lingkungan hidup (ekosistem alam) hingga kini terus terjadi tanpa henti.

Seharusnya pendidikan lingkungan hidup, terutama bagi yang penduduk yang bermukim di kawasan pegunungan (hill area) diberikan agar mereka sadar dan peduli menjaga lingkungan, tapi ini amat jarang dilakukan.
Demikian pun tindakan pengawasan dari pihak-2 berwajib seperti aparat Pemkab/Satpol PP, Polsek, Koramil, Desa dan Kelurahan setempat terhadap mereka yang merusak ekosistem sangatlah kurang, bahkan maaf terkadang ada juga oknum aparat yang terlibat dalam perbuatan illegal tsb (illegal logging (deforestry), illegal mining (peti) dan illegalfishing etc). Istilah lainnya “pagar makan tanaman”.

Lantas dari sengkarut problem lingkungan ini apa yang harus kita lakukan secara individual, Warga masyarakat, keluarga, kelompok, lsm/ngo, perusahaan-koorporasi, para pejabat Pemerintahan dan penyelenggara negara? Marilah kita sadar, peduli dan tegakan etika serta hukum lingkungan agar SDAL tetap sehat dan lestari, bisa dinikmati secara berkelanjutan (sustainability) oleh generasi berikutnya (anak cucu dan cicit dst).

Ada pemikiran dari ulama asal Bugis Sulsel, bpk KH Ali Yafie dalam bukunya “Merintis Fiqih Lingkungan Hidup”, cetakan pertama. Ufuk Press Jakarta, 2006, 295 hal. Bahwa beliau menyerukan semua pihak (all stakeholders) agar sadar dan beriman-bertaqwa melakukan perubahan-2 yang mengarah kepada terwujudnya kemalahatan masyarakat (mashlahat al-ummah). Dalam rangka pemeliharaan dan perlindungan (pengamanan dan penanganan) lingkungan hidup:

(1) semua pihak, terutama Pemerintah, pebisnis, dan masyarakat agar merubah kerangka pandang (paradigma) mereka terhadap lingkungan hidup. Bahwa lingkungan hidup bukan barang dagangan yang dieksploitasi sampai habis demi keuntungan material. Melainkan, lingkungan hidup adalah ciptaan Allah, makhluk Allah yang diamanatkan kepada ummat manusia untuk menjaga, memelihara dan melindunginya sebagaimana seharusnya agar keseimbangan kehidupan dalam alam semesta ini tetap tercipta dengan sempurna (lestari) karena Allah sudah menciptakan lingkungan hidup ini dengan sempurna berdasarkan ketentuanNya bahwa satu sama lain saling berhubungan dan bergantung dalam mata rantai kehidupan (ekosistem alam).

Baca :  Pramuka Bogor Bersihkan Sisa Sisa Banjir di Puncak

Air, tanah dan udara adalah 3 unsur kehidupan yang fundamental yang diciptakan dan disediakan Allah untuk kehidupan semua makhluk hidupNya, baik tumbuh-2an, pepohonan, binatang, maupun manusia itu sendiri. Oleh karena itu, air, tanah dan udara adalah milik semua makhluk hidup untuk kelangsungan hidupnya.

Sehubungan dengan uraian mengenai pelajaran apa yang ada di dibalik bencana alam banjir bandang dan tanah longsor tersebut, maka saya mengajak diri saya sendiri dan kita sekalian para pembaca budiman, sebaiknya kita memahami pula perspektif Al Quran tentang lingkungan hidup (air, tanah, dan udara), SDA (makhluk hidup dan mati) dan ekosistem alam yang diciptakan Tuhan di muka bumi ini.

Menurut KH Ali Yafie (ulama besar, Ketua Umum MUI Pusat) Islam melarang-keras (mengharamkan) 2 hal utama terhadap 3 unsur kehidupan (tanah, air dan udara) tersebut yaitu:

1. Mencemarkan, sehingga tidak dapat digunakan atau digunakan tetapi membahayakan kehidupan; dan

2. Dimiliki oleh pribadi untuk kepentingan komersial (privatisasi).
Air, tanah dan udara tersebut adalah milik umum (public goods, communal property right dan state property right) untuk kesejahteraan dan kemakmuran bersama (amanah konstitusi UUD 1945 pasal 33), sehingga penggunaan dan kemanfaatannya hsrus diatur oleh Pemerintah untuk kepentingan.umum, tidak boleh mencemarkannya dan memilikinya untuk kepentingan komersial (bisnis dan investasi) yang merugikan banyak orang, rakyat (all the peoples). Hal inilah yg kini banyak dilanggar oleh setiap regim yg berkuasa di NKRI, yang cukup mengkhawatirkan.

Akhir-2 ini semakin tampak gejala merajalelanya hak kepemilikan SDAL publik berpindah ke pribadi (corrupt) tragisnya siapa mereka? “aseng dan asing” (private/big coorporate) yang mengusai bisnis air, menguasai lahan-agraria, hutan, kebun Sawit, tambang energi, pulau-2 kecil dll. Disinyalir mereka yang merusak ekosistem hutan, DAS dan perairan umum dan laut lainnya; dan

(2) Berdasarkan cara pandang (mindset, cultural) tersebut diatas, Pemerintah RI dan semua negara-2 di dunia perlu merubah paradigma pembangunan yang menjadi programnya, dimana pembangunan hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi (economic growth) semata dengan memacu eksploitasi SDAL secara besar-2, menguras tanpa mempertimbangkan kelangsungannya (overexploitation, notconservation and unsustainability), disertai keserakahan yang kemaruk (greedy, moral hazard), etika antroponcentrisme (yang seharusnya ecocentrisme, sadar ekosistem). Paradigma ini harus diubah menjadi pembangunan berorientasi pada kemaslahatan rakyat (mashslih al-ra’iyyah). Ini sesuai dengan kaidah fiqih bahwa pembelanjaan Pemerintah atas rakyatnya harus didasarkan kemaslahatan (tasharruf al-iman ‘ala al-ra’iyyah manuthun bi al-mashalahat).

Menurut bpk KH Ali Yafie (2006), kemaslahatan itu diantaranya yang paling utama yang harus diwujudkan, selain pemeliharaan jiwa, pemeliharaan akal, pemeliharaan harta benda, pemeliharaan keturunan, dan pemeliharaan agama, juga adalah pemeliharaan lingkungan hidup. Pembangunan berwawasan dan ramah lingkungan hidup untuk mewujudkan 6 kemaslahatan -pemeliharaan yg telah dikemukakan;

(3). Untuk mewujudkan cita kemaslahatan dalam pembangunan ramah lingkungan ini Pemerintah, legislatif dan yudikatif harus tegas dalam mengambil kebijakan negara secara adil dan tanpa pandang bulu (tebang pilih). Selain itu ada regulasi (hukum atau peraturan-perundang-undangan) yang mengatur penegakkan kemaslahatan ini, juga penegakan hukum agar ada efek jera bagi pengrusak lingkungan hidup tersebut; dan

4). Masyarakat pun harus memiliki kesadaran dan ruang partisipasi untuk pemeliharaan, perlindungan, dan pelestarian lingkungan hidup. Karena masyarakat dalam kenyataannya paling dekat dan bersentuhan langsung dengan lingkungan hidup dan mereka pula yg merasakan dampak terjadinya kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, pendidikan lingkungan hidup (tarbiyat al-bi’ah) harus diberikan sejak dini baik jalur formal dan nonformal serta pendidikan dalam keluarga (informal) terutama dengan keteladanan (uswah hasanah).

Akhirnya dalam upaya membangun kesadaran pelestarian lingkungan hidup, bagus juga kita renungkan firman Allah SWT QS Al Qasas: 83 berikut, terjemahannya: “Negeri akhirats itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan yang baik itu bagi orang-orang yang bertaqwa..”.

Berbuat kerusakan di muka bumi itu, tentu dimensi dan spektrumnya amat luas, diantara mereka yang telah merusak ekosistem alam (hutan, DAS, lautan dll), melanggar tata ruang, yang merampok SDAL sebagai sumber kemakmuran bersama karena keserakahan (greedy), mencemari lingkungan hidup etc.

Demikian dan terima kasih atas perhatiannya, semoga dari peristiwa-2 alam tersebut kita bisa tarik pelajaran (i’tibar) dan bermanfaat bagi kehidupan kita sekalian untuk keselamatan di dunia dan akhirat. Amin-3 YRA, syukron barakallah. Wassalam.

Penulis adalah Pendiri-Dosen Universitas Djuanda Bogor, Assosiate Profesor, Konsultan K/L dan Aktivis Ormas di Bogor serta Pemerhati Sosial

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here